Muhammadiyah, NU, Persis, dan Salafi: Bukan Untuk Dipertentangkan

rahmat.or.id – Seiring perkembangan zaman, isu mengenai ormas-ormas Islam seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), Persis, Salafi, dan lainnya, kerap kembali diangkat oleh sebagian pihak yang ingin mencari sensasi atau bahkan merusak ukhuwah Islamiyah di antara umat Islam. Padahal, jika ditelusuri lebih dalam, sejarah lahirnya berbagai gerakan tersebut justru lahir dari semangat yang sama: memperbaiki, menguatkan, dan memajukan umat Islam.

Ulama Hebat dari Satu Akar

Kita mengenal dua ulama besar di Indonesia, KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari. Keduanya adalah keturunan dari Sunan Giri (Syaikh Maulana ‘Ainul Yaqin) yang silsilahnya bersambung hingga Rasulullah SAW. Menariknya, kedua tokoh besar ini juga memiliki guru yang sama, baik ketika belajar di Nusantara maupun di Tanah Suci Makkah.

Di Semarang, mereka berguru kepada KH. Shaleh Darat, sedangkan di Makkah sama-sama belajar kepada Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, ulama besar asal Minangkabau.

Latar Belakang Berdirinya Muhammadiyah

Sepulang dari Makkah, KH. Ahmad Dahlan—yang nama kecilnya Muhammad Darwis—melihat fenomena keagamaan di masyarakat yang dinilainya menyimpang dari ajaran tauhid murni, seperti meminta berkah pada kuburan, sesajen, dan praktik-praktik yang tidak sesuai dengan akidah Islam.

Dari keprihatinan itulah beliau mendirikan Jam’iyah Muhammadiyah (18 November 1912) sebagai wadah dakwah dan pendidikan umat. Misi utamanya ialah meluruskan akidah, memajukan pendidikan, serta menumbuhkan pemikiran Islam yang rasional, maju, dan berorientasi pada amal nyata.

Lahirnya Nahdlatul Ulama

Empat belas tahun kemudian, tepatnya 31 Januari 1926, berdirilah Nahdlatul Ulama (NU) di bawah pimpinan KH. Hasyim Asy’ari. Saat itu, beliau sangat memahami gerakan yang telah dilakukan KH. Ahmad Dahlan. Namun, setelah wafatnya KH. Ahmad Dahlan (1925), KH. Hasyim Asy’ari merasa perlunya menjaga dan melestarikan tradisi keilmuan klasik (kitab kuning) yang telah menjadi warisan ulama terdahulu.

Maka berdirilah NU—Kebangkitan Ulama—yang fokus pada pemeliharaan khazanah keilmuan Islam tradisional serta menjaga kemurnian ajaran Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Lahirnya Persis dan Dewan Dakwah

Setelah kedua ormas besar tersebut berjalan, muncul pula gerakan lain seperti Persatuan Islam (PERSIS) yang berfungsi sebagai jembatan untuk mempererat jaringan dakwah di antara umat Islam Indonesia. Sementara itu, Dewan Dakwah hadir untuk memperkuat kegiatan dakwah langsung ke masyarakat—melalui pembangunan masjid, pengiriman da’i, dan kegiatan sosial lainnya.

Semua gerakan ini sejatinya hanyalah wasilah (sarana) untuk menyebarkan dakwah Islam sesuai dengan kondisi dan kebutuhan zamannya.

Tentang Sebutan “Salafi”

Berbeda dengan ormas-ormas di atas, Salafi bukanlah sebuah organisasi (Jam’iyah) atau mazhab baru. Ia lebih tepat disebut manhaj—yakni cara hidup yang meneladani generasi awal Islam (as-salaf ash-shalih).

Yang dimaksud dengan ulama salaf ialah para ulama dari tiga generasi terbaik setelah Rasulullah SAW:

  • Para sahabat (Khulafaur Rasyidin),
  • Para tabi’in,
  • Para tabi’ut tabi’in,
    termasuk juga para imam mazhab besar seperti Imam Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, dan Ahmad bin Hanbal.

Dengan demikian, sebenarnya setiap muslim yang berusaha mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW dan para ulama terdahulu juga bisa disebut “salafi” dalam makna hakikinya. Maka terasa janggal jika ada yang berkata, “Saya salafi, kamu bukan,” sebab sejatinya semua umat Islam yang mengikuti tuntunan Rasulullah SAW berada di jalan yang sama.

Penutup

Perbedaan dalam cara dakwah dan pendekatan tidak seharusnya menjadi sumber perpecahan. Semua ormas Islam di Indonesia lahir dari niat yang sama: menegakkan ajaran Islam, memperbaiki umat, dan menebar rahmat.

Mari menjaga ukhuwah dan menghormati perbedaan, sebab di balik semua nama dan bendera, kita tetap satu dalam kalimat tauhid — Lā ilāha illallāh.

Rahmatullah

Blogger Aktif Sejak Tahun 2009 | Founder ekispedia.id | Owner Sejasa Net