Menemani Istri, Bulan Ketiga Kehamilannya
rahmat.or.id – Hari ini (Ahad, 07 Desember 2025) aku kembali duduk di sudut sebuah kamar di salah satu klinik ternama di Stabat. Ini sudah kali ketujuh istriku harus dirawat selama kehamilannya yang kini memasuki bulan ketiga. Ruangan itu hening, hanya ada suara pelan dari ac dan langkah perawat yang sesekali lewat di lorong.
Wajahnya terlihat pucat, matanya lebih sering terpejam karena mual tak kunjung reda. Seperti kebanyakan ibu hamil muda, ia berjuang melawan muntah, pusing, lemas, dan rasa tidak nyaman yang datang hampir sepanjang hari. Tangannya kadang gemetar saat mencoba meminum air, tubuhnya terlihat sangat rapuh, tapi hatinya tetap kuat.
Aku duduk di samping tempat tidurnya, menggenggam tangannya. Tidak banyak yang bisa kulakukan selain itu. Mengusap punggungnya saat mual datang, membantu menyeka wajahnya, dan memastikan selimutnya nyaman. Dalam hati, aku selalu berdoa agar rasa sakit itu bisa sedikit berkurang.
Yang paling menyentuh adalah caranya tetap meminta maaf.
“Maaf ya sayang, sering merepotkan,” katanya pelan. Aku hanya bisa menggeleng dan tersenyum. Bagiku, ini bukan beban. Ini amanah. Ini perjalanan.
Tujuh kali dirawat bukan angka kecil. Setiap infus, setiap obat, setiap malam yang dijalani di kamar itu mengajarkanku tentang arti sabar yang sesungguhnya. Aku belajar bahwa cinta terkadang hadir bukan dalam bentuk kata-kata indah, tapi dalam diam, dalam jaga, dalam setia di sisi ranjang.
Di bulan ketiga ini, kami belum sampai di garis akhir. Tapi setiap detiknya, kami makin kuat — bersama.



