Banyak Bicara, Minim Isi
rahmat.or.id – Jika ingin dikenang, manusia seharusnya menanam manfaat, bukan menanam kebisingan. Seperti benih di tengah sawah, ia tumbuh diam-diam, tak butuh sorotan, namun kelak memberi kehidupan. Sayangnya, yang tumbuh subur hari ini bukan semangat memberi, melainkan semangat pamer.
Di era media sosial, terlalu banyak orang berlomba menjadi terkenal, bukan berlomba menjadi berguna. Mereka sibuk membangun citra, sibuk mengatur sudut kamera, sibuk memoles kata-kata, namun lupa membangun isi diri. Prestasi kecil diumumkan besar-besaran, seolah dunia harus mengakui. Padahal, penghormatan tidak lahir dari teriakan, tetapi dari ketekunan dan kerja nyata.
Pepatah lama tentang padi seolah tak lagi dipahami: semakin berisi, semakin tunduk ke bawah. Namun hari ini yang terjadi justru sebaliknya. Baru tahu sedikit, sudah merasa paling benar. Baru mendapat jabatan kecil, langsung berbicara seolah dirinya penentu segalanya. Mereka tak sadar, kesombongan adalah tanda rapuhnya jiwa dan dangkalnya ilmu.
Lebih ironis lagi, ada yang seperti ayam di kandang: bertelur satu, ribut sekampung. Baru melakukan satu kebaikan, sudah dipamerkan ke mana-mana. Baru memberi sedikit bantuan, langsung diumumkan seolah itulah amal terbesar sepanjang sejarah. Kebaikan yang seharusnya ikhlas berubah menjadi alat pencitraan. Kepedulian yang seharusnya sunyi berubah menjadi panggung.
Padahal orang yang benar-benar berkualitas tidak butuh pengakuan. Ia tidak sibuk mengaku pandai. Ia tidak menepuk dada. Ia bekerja dalam diam, dan membiarkan hasil yang berbicara. Seperti penyu di pantai, ia bertelur ratusan tanpa merasa perlu memamerkan diri. Karena yang besar tidak perlu berisik.
Jika ingin harum seperti mawar, jauhi sifat meninggikan diri. Dunia ini sudah terlalu penuh orang yang suaranya keras, tapi karyanya kosong. Terlalu banyak yang pandai bicara, tapi miskin kontribusi. Maka sudah saatnya kita kembali pada akal sehat: rendah hati bukan kelemahan, melainkan tanda kematangan.
Sebab pada akhirnya, yang akan dikenang bukan siapa yang paling ramai, melainkan siapa yang paling bermanfaat.
(Intisari dari lagu “Petuah Orang Tua” ciptaan Prof. Ahmad Baqi)



